Tag Archives: Teh Hitam Atasi Penyakit Jantung

Teh Hitam Atasi Penyakit Jantung – Minum Teh Secara Teratur Mampu Atasi penyakit Jantung

See full size imageTeh dikenal sebagai salah satu minuman populer sejak lama. Kehadirannya selalu ada dalam kehidupan sehari-hari, baik pada pagi, siang, maupun malam hari. Apakah Anda termasuk? Jika ya, ini berita baik untuk Anda. Menurun penelitian terbaru, minum teh 3 kali sehari dapat menstabilkan dan menurunkan tekanan darah.

Tekanan darah yang tinggi secara signifikan dapat meningkatkan risiko penyakit jantung. Teh dapat membantu menurunkannya karena terdapat kandungan flavonoid di dalamnya. Zat flavonoid diketahui memiliki fungsi sebagai antioksidan untuk membantu melawan penyakit jantung.

“Sudah lama terbukti bahwa konsumsi teh sangat baik untuk kesehatan jantung bahkan konsumsi¬†teh hitam atasi penyakit jantung.¬†Penemuan ini sangat penting sebab telah menunjukkan bukti terbaru bahwa ada hubungan antara teh dan risiko utama penyakit jantung,” ungkap Prof Jonathan Hodgson, peneliti dari University of Western Australia, seperti dikutip dari Daily Mail, Selasa (30/4/2013).

“Untuk pertama kalinya dalam ilmu pengetahuan medis, terbukti bahwa mengonsumsi teh hitam dapat menurunkan tekanan darah,” lanjutnya.

Dalam penelitian ini, dilibatkan 111 laki-laki dan perempuan yang diminta untuk minum 3 cangkir teh hitam setiap hari selama 6 bulan berturut-turut. Hasilnya mereka memiliki tekanan darah sistolik dalam rentang 115-150 mmHg. Seperti diketahui tekanan darah tinggi adalah apabila sistoliknya lebih dari 140 mmHg.

Para peneliti yakin bahwa kandungan flavonoid pada teh yang dikonsumsi 3 cangkir sehari tersebut telah menurunkan 2-3 mmHg tekanan darah sistolik
responden. Diungkapkan juga penambahan susu dalam teh hitam tidak akan mempengaruhi manfaat flavonoid yang ada di teh.

“Tekanan darah tinggi merupakan faktor yang paling memungkinkan berisiko menjadi penyakit jantung. Konsumsi rutin teh hitam telah terbukti menurunkan tekanan darah melalui penelitian ini,” ujar dr Tim Bond, peneliti dari Tea Advisory Panel.

Sumber : DetikHealth